Senin, 07 Juli 2014

Dua kota Dua benua Satu cinta (part 1)

Hari ini cuaca sedikit mendung, ku lihat angin membawa sedikit pesan untukku.yah aku mulai terbiasa dengan kota ini, kota yang jauh dari keramaian, kota yang jauh dari kebisingan begitu tenang sampai aku bisa mendengar suara riangnya burung bernyanyi indahnya bunga menari dan kialunya air yang mengalir. aku berada di tepi jendela menikmati suasana yang begitu aku dambakan ini tapi sepertinya tak smua orang senang dengan suasana ini lea adikku terlihat sangat tidak nyaman dengan susana ini, kami baru saja pindah beberapa hari yang lalu dari jakarta. ayah ku membawa kami kesini karna ia dipindah tugaskan, sebelumnya ibu dan addikku menolak untuk ikut pindah ayahku membujuk mereka agar tetap bersama akhirnya hati ibuku pun luluh dengan kata-kata ayah dan memutuskan untuk mengikuti ayahku hanya lea adikku yang tetap menolaknya dan terpaksa ikut bersama kami disini. aku tau alassn kenapa lea tak ingin pindah itu karna robby orang yang diam-diam disukai lea aku tau itu ketika membaca diarry milik lea, saat lea tau aku membaca buku keramat miliknya itu dia langsung marah padaku sambil bicara " kakak apa-apaan si bacaini buku lea emangnya kakak gapunya kerjaaan apa, ihh andai aku ini anak tunggal !!!" yah aku masih sangat ingat dngan katakata lea itu ditambah lagi dengan gaya khasnya yang memanyunkan bibir. 

saat ini aku sdang mempersiapkan ujian untuk masuk sekolah kedokteran yang ada di jerman, dan adikku lea dia akan memasuki bangku sma " heh andai saja masa-masa indah itu terulang lagi " sambil menatap hamparan foto-foto yang ada di laptop. "lea... lea dimana kamu !" suara ibu yang menurutku adalah suara paling merdu tapi wajar saja suaranya merdu dulunya ibu adalah penyanyi yang cukup terkenal hingga akhirnya menikah dengan ayah dan memutuskan untuk berhenti menyanyi tapi tetap sajasuaranya masih sangat merdu dan indah. "tia coba tolong kamu cari adikmu yah, ibu takut dia tersesat sebentar lagi kan waktunya berbuka " tanpa banyak menjawab aku pergi mencari lea beberapa orang yang aku tanya hanya menjawab "walah saya ndak taue mba" hampir putus asa menghubungi lea samar-samar kuliahat kerudungnya melambai dekat sungai, begituasiknya dia sampai tak menyadari aku sudah duduk disampingnya " lea kamu kok disini ngapain pulang yuk ibu udah nyariin tuh" " kak kenapa si cinta itu rumit??" katanya sambil menatap jauh kedepan aku tau dia berusaha menahan tangisnya " kak kenapa si kakak sama ibu mau diajak ayah kesini ??" "lea kamu kenapa coba cerita sama kakak tapi skarang kita pulang dulu yah ibu udah khawatir banget tuh gara-gara kamu ngilang nanti dirumah kamu cerita sama kakak" lea hanya menganggukkan kepalanya dan berjalan mendahuluiku. sesampainya dirumah azan yang paling dinantikan akhirnya berkumandang dengan secepat kilat kusambar teh hangat yang sudah ibu siapkan " loh kok lea masih dieam aja si ayo dong makan batalin dulu puasanya pamali loh udah azan belom dibatalin" sambil bermalas"an lea mengambil tehnya dah duduk dikursi paling ujung " kak adekmu itu lagi kenapa ?" "gatau bu lagi patah hati kali" jawabku sekenanya tibatiba telepon berdering "lea angkat dong telphonnya " "tangan aku lagi kotor bu" tanpa banyak menjawab ku angkat telphon itu " halo assalamu'alaikum.... halo" deg seketika jantungku serasa berhenti "aku kenal suara ini aku sangat paham suara ini tp apa jangan-jangan" aku bicara dalam hati " halo...halo, ah apa mungkin telphon ini rusak yah", " hh..a.ll..o" aku menjawab dengan gemetar, ah apa mungkin itu dia

Tidak ada komentar:

Posting Komentar